Rabu, 04 Januari 2012

WORDS TO LIVE BY

Author/Physician Shigeaki Hinohara
By JUDIT KAWAGUCHI
Japan's 97-year-old physician educator offers
advice for seniors ~ Japan Times

At the age of 97 years and 4 months, Shigeaki Hinohara is one of the world's longest-serving physicians and educators. Hinohara's magic touch is legendary: Since 1941 he has been healing patients at St. Luke's International Hospital in Tokyo and teaching at St. Luke's College of Nursing . After World War II, he envisioned a world-class hospital and college springing from the ruins of Tokyo ; thanks to his pioneering spirit and business savvy, the doctor turned these institutions into the nation's top medical facility and nursing school. Today he serves as chairman of the board of trustees at both organizations. Always willing to try new things, he has published around 150 books since his 75th birthday, including "Living Long, Living Good" that has sold more than 1.2 million copies. As the founder of the New Elderly Movement, Hinohara encourages others to live a long and happy life, a quest in which no role model is better than the doctor himself. Energy comes from feeling good, not from eating well or sleeping a lot. We all remember how as children, when we were having fun, we often forgot to eat or sleep. I believe that we can keep that attitude as adults, too. It's best not to tire the body with too many rules such as lunchtime and bedtime.

The Power Of Dreams

"Orang-orang hanya melihat 1% kesuksesanku, namun mereka tak melihat 99% kegagalanku"

"Saat KEKUATAN mulai melemah bukan berarti harus menyerah..
Saat KEMAMPUAN mulai pudar bukan berarti harus menghindar..
Saat KEGIGIHAN mulai rapuh bukan berarti harus terjatuh..
Bentuk KASIH SAYANG TUHAN tidak selalu terasa manis, tetapi terkadang pahit..
Dan disinilah PROSES hidup berjalan untuk mencapai KESUKSESAN !"

Mengapa orang menikah? Karena mereka jatuh cinta. Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia? Apakah karna jatuh cinta? Bukan. Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.

Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli thd keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yg bs ditutupi lg. Dgn interaksi 24 jam per hari 7 hari dlm seminggu, semua belang tersingkap..

Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dlm keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dlm keadaan jengkel. Dlm keadaan jengkel, cinta bukan lg berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan bersama2 mencari solusi yg dpt diterima semua pihak. Cinta yg dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka utk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.

Syarat utk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mrk bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tp neraka. Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat komitmen awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan??

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Mau punya teman hidup? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu bangunlah cinta.

Kebaikan Berantai Tanpa Rencana

Herijanto Najan: "Berbalas kebaikan berantai tanpa rencana"
Inspiring story...

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda. Didlm angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yg blm terisi.

Di tengah jalan, angkot2 saling menyalip utk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yg kami tumpangi, ada seorang ibu dgn 3 org anak remaja berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yg berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kpd supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali.

Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yg kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya "Dik, lewat terminal bis ya?", supir tentu menjawab "ya". Yang aneh ibu tdk segera naik. Ia
bilang "tapi saya dan ke 3 anak saya tdk punya ongkos." Sambil tersenyum, supir itu menjawab "gak papa Bu, naik saja", ketika si Ibu tampak ragu2, supir mengulangi perkataannya "ayo bu, naik saja, gakpapa"

Saya terpesona dgn kebaikan Supir angkot yg msh muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba utk mncari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya utk ibu & anak2nya.

Ketika sampai di terminal bis, 4 penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kpd Supir.
Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dgn uang Rp.20rb.

Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya Rp.4 ribu).  Pria ini bilang bahwa uang itu utk
ongkos dirinya & 4 penumpang gratisan tadi. "Terus jadi orang baik ya, Dik " kata pria tsb kepada sopir angkot muda itu

Sore itu saya benar2 dibuat kagum dgn kebaikan2 kecil yg saya lihat. Seorang Ibu miskin yg jujur, seorang Supir yg baik hti,&seorang penumpang yg budiman. Mereka saling mendukung utk kebaikan. Andai separuh saja bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita.